camp

Selasa, 12 April 2011

BUKU PANDUAN BAHASA INDONESIA UNTUK MEMBUAT KARYA ILMIAH

untuk lebih lengkap silakan download di sini:
http://www.ziddu.com/download/14579222/BUKUPANDUANBAHASAINDONESIAUNTUKMEMBUATKARYAILMIAH.doc.html


BAB I
EJAAN BAHASA INDONESIA YANG DISEMPURNAKAN
DAN PENERAPANNYA


1. Pengertian Ejaan
Ejaan ialah penggambaran bunyi bahasa dengan kaidah tulis-menulis yang
distandardisasikan. Lazimnya, ejaan mempunyai tiga aspek, yakni aspek
fonologis yang menyangkut penggambaran fonem dengan huruf dan
penyusunan abjad aspek morfologi yang menyangkut penggambaran
satuan-satuan morfemis dan aspek sintaksis yang menyangkut penanda
ujaran tanda baca (Badudu, 1984:7). Keraf (1988:51) mengatakan bahwa
ejaan ialah keseluruhan peraturan bagaimana menggambarkan
lambang-lambang bunyi ujaran dan bagaimana interrelasi antara
lambang-lambang itu (pemisahannya, penggabungannya) dalam suatu
bahasa. Adapun menurut KBBI (1993:250) ejaan ialah kaidah-kaidah cara
menggambarkan bunyi-bunyi (kata, kalimat, dan sebagainya) dalam bentuk
tulisan (huruf-huruf) serta penggunaan tanda baca. Dengan demikian,
secara sederhana dapat dikatakan bahwa ejaan adalah seperangkat kaidah
tulis-menulis yang meliputi kaidah penulisan huruf, kata, dan tanda
baca.

1.2 Beberapa Ejaan Resmi yang Pernah Berlaku di Indonesia
Sampai saat ini dalam bahasa Indonesia telah dikenal tiga nama ejaan
yang pernah berlaku. Ketiga ejaan yang pernah ada dalam bahasa
Indonesia adalah sebagai berikut.
1. Ejaan van Ophuysen
2. Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi
3. Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan

Sebagaimana yang telah umum diketahui, Ejaan van Ophuysen -- sesuai
dengan namanya -- diprakarsai oleh Ch. A. van Ophuysen, seorang
berkebangsaan Belanda. Ejaan ini mulai diberlakukan sejak 1901 hingga
munculnya Ejaan Soewandi. Ejaan van Ophuysen ini merupakan ejaan yang
pertama kali berlaku dalam bahasa Indonesia yang ketika itu masih
bernama bahasa Melayu.
Sebelum ada ejaan tersebut, para penulis menggunakan aturan
sendiri-sendiri di dalam menuliskan huruf, kata, atau kalimat. Oleh
karena itu, dapat dipahami jika tulisan mereka cukup bervariasi.
Akibatnya, tulisan-tulisan mereka itu sering sulit dipahami. Kenyataan
itu terjadi karena belum ada ejaan yang dapat dipakai sebagai pedoman
dalam penulisan. Dengan demikian, ditetapkannya Ejaan van Ophuyson
merupakan hal yang sangat bermanfaat pada masa itu.
Setelah negara kesatuan Republik Indonesia terbentuk dan
diproklamasikan menjadi negara yang berdaulat, para ahli bahasa merasa
perlu menyusun ejaan lagi karena tidak puas dengan ejaan yang sudah
ada. Ejaan baru yang disusun itu selesai pada tahun 1947, dan pada
tanggal 19 Maret tahun itu juga diresmikan oleh Mr. Soewandi selaku
Menteri PP&K (Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan). Ejaan baru itu
disebut Ejaan Republik dan dikenal juga dengan nama Ejaan Soewandi.
Sejalan dengan perkembangan kehidupan bangsa Indonesia, kian hari
dirasakan bahwa Ejaan Soewandi perlu lebih disempurnakan lagi. Karena
itu, dibentuklah tim untuk menyempurnakan ejaan tersebut. Pada tahun
1972 ejaan itu selesai dan pemakaiannya diresmikan oleh Presiden
Soeharto pada tanggal 16 Agustus 1972 dengan nama Ejaan Bahasa
Indonesia yang Disempurnakan (EYD).

1.3 Pemakaian Huruf
Pemakaian huruf dalam ejaan menyangkut dua hal, yaitu pemakaian huruf
kapital atau huruf besar dan pemakaian huruf miring.

(a) Pemakaian Huruf Kapital
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat dan
petikan langsung.
Misalnya:
(1) Anak saya sedang bermain di halaman.
(2) Apa maksudnya?
(3) Pimpinan kami berkata, "Masalah ini memang sangat kompleks."
(4) Bapak menasihatkan, "Berhati-hatilah, Nak!"

Huruf kapital juga digunakan sebagai huruf pertama pada hal-hal berikut.
1) Ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan dan kitab suci,
termasuk kata ganti untuk Tuhan.
Contoh: Allah, Yang Maha Pengasih, Alkitab, Quran, Weda, Islam, Kristen
Tuhan akan menunjukkan jalan yang benar kepada hamba-Nya.
Bimbinglah hamba-Mu ya Tuhan.
2) Nama gelar kehormatan dan keagamaan yang diikuti nama orang beserta
unsur nama jabatan dan pangkat.
Misalnya:
Mahaputra Yamin, Raden Ajeng Kartini, Nabi Ibrahim, Presiden Megawati,
Jenderal Sutjipto, Haji Agus Salim
3) Nama orang, nama bangsa, suku bangsa, bahasa, dan nama tahun,
bulan, hari, hari raya, peristiwa sejarah, serta nama-nama geografi.

Misalnya:
Hariyati Wijaya
suku Jawa
bahasa Indonesia
tahun Masehi
bulan November
hari Kamis
hari Natal
Perang Salib
Nusa Tenggara

4) Unsur nama negara, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, dokumen
resmi, serta nama buku, majalah, dan surat kabar.
Contoh:
Republik Indonesia
Direktorat Jenderal Kebudayaan
Undang-Undang Dasar 1945
Bacalah majalah Bahasa dan Sastra.
Dia adalah agen surat kabar Sinar Pembangunan.
Tulisannya dimuat di harian Kompas.

5) Unsur singkatan nama gelar, pangkat, sapaan, dan nama kekerabatan
yang dipakai sebagai sapaan. Contoh:
S.S. (sarjana sastra)
Prof. (profesor)
Ny. (nyonya)
"Namamu siapa, Nak?" tanya Pak Lurah.
Surat Saudara sudah saya terima.

Di samping yang telah disebutkan di atas, huruf kapital juga digunakan
sebagai huruf pertama kata ganti Anda.
Sehubungan dengan penulisan karya tulis, judul karya tulis, baik yang
berupa laporan, makalah, skripsi, disertasi, kertas kerja, maupun
jenis karya tulis yang lain, seluruhnya ditulis dengan huruf kapital.
Selain itu, huruf kapital seluruhnya juga digunakan dalam penulisan
hal-hal berikut:
(1) judul kata pengantar atau prakata;
(2) judul daftar isi;
(3) judul grafik, tabel, bagan, peta, gambar, berikut judul daftarnya
masing-masing;
(4) judul daftar pustaka;
(5) judul lampiran.
Dalam hubungan itu, judul-judul subbab atau bagian bab huruf pertama
setiap unsurnya juga ditulis dengan huruf kapital, kecuali yang berupa
kata depan dan partikel seperti, dengan, dan, di, untuk, pada, kepada,
yang, dalam, dan sebagai.

(b) Pemakaian Huruf Miring atau Garis Bawah
Huruf miring (dalam cetakan) atau tanda garis bawah (pada tulisan
tangan/ketikan) digunakan untuk menandai judul buku, nama majalah, dan
surat kabar yang dipakai dalam kalimat.
Contoh:
(1) Masalah itu sudah dibahas Sutan Takdir Alisjabana dalam bukunya
yang berjudul Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia.
(2) Tulisannya pernah dimuat dalam majalah Kartini.
(3) Harian Kompas termasuk salah satu surat kabar yang terkemuka di Indonesia.

Berbeda dengan itu, judul artikel, judul syair, judul karangan dalam
sebuah buku (bunga rampai), dan judul karangan atau naskah yang belum
diterbitkan, penulisannya tidak menggunakan huruf miring, tetapi
menggunakan tanda petik sebelum dan sesudahnya. Dengan kata lain,
penulisan judul-judul itu diapit dengat tanda petik. Contoh:
(4) Tulisan Sapardi Djoko Damono yang berjudul "Bahasa Indonesia dalam
Bacaan Anak-Anak" pernah dimuat dalam majalah Bahasa dan Sastra.
(5) Sajak "Aku" dikarang oleh Chairil Anwar.
(6) Bacalah "Diksi atau Pilihan Kata" dalam buku Kembara Bahasa.

Huruf miring digunakan pula untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf,
bagian kata, atau kelompok kata.
Misalnya:
(7) Huruf t sebagai huruf pertama kata Tuhan harus ditulis dengan huruf kapital.
(8) Akhiran –an pada kata kubangan berarti 'tempat'.
(9) Pekerjaan ini harus Saudara selesaikan secepatnya.

Sesuai dengan kaidah, kata-kata asing yang ejaannya belum disesuaikan
dengan ejaan bahasa Indonesia atau kata-kata asing yang belum diserap
ke dalam bahasa Indonesia juga harus ditulis dengan huruf miring jika
digunakan dalam bahasa Indonesia. Misalnya, kata go public, devide et
impera, dan sophisticated pada contoh berikut.
(10) Dewasa ini banyak perusahaan yang go public.
(11) Politik devide et impera pernah digunakana Belanda untuk
memecah-belah bangsa Indonesia.
(12) Kata asing sophisticated berpadanan dengan kata Indonesia canggih.

Berbeda dengan itu, kata-kata serapan seperti sistem, struktur,
efektif, dan efisien tidak ditulis dengan huruf miring karena ejaan
kata-kata itu telah disesuaikan dengan ejaan bahasa Indonesia. Dengan
kata lain, kata-kata serapan semacam itu telah diperlakukan seperti
halnya kata-kata asli bahasa Indonesia.
Dalam dunia ilmu pengetahuan, banyak pula dikenal nama-nama ilmiah
yang semula berasal dari bahasa asing. Salah satu di antaranya adalah
Carcinia mangostana, yakni nama ilmiah untuk buah manggis. Nama-nama
ilmiah semacam itu jika digunakan dalam bahasa Indonesia juga ditulis
dengan huruf miring karena ejaannya masih menggunakan ejaan bahasa
asing.
Misalnya:
(13) Manggis atau Carcinia mangostana banyak terdapat di pulau Jawa.
Pada nama-nama ilmiah semacam itu huruf kapital hanya digunakan pada
unsur yang pertama, sedangkan unsur selebihnya tetap ditulis dengan
huruf kecil.

untuk lebih lengkap silakan download di sini:
http://www.ziddu.com/download/14579222/BUKUPANDUANBAHASAINDONESIAUNTUKMEMBUATKARYAILMIAH.doc.html


--
www.cairudin.blogspot.com
www.cairudin2blogspot.com
www.rudien87.wordpres.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar