camp

Sabtu, 29 Mei 2010

Pengingkaran Gelar ‘KH’ Ulama Bugis-Makassar


 Yang pasti persamaan antara ulama Jawa dan Ulama Bugis Makassar adalah sama-sama Ulama, seorang tokoh agama yang kemudian menjadi pemimpin informal ditengah-tengah masyarakat.

Ada yang menarik bila membedah keberadaan kedua ulama ini. Di Jawa, Ulama lebih sreg menggunakan gelar Kyai Haji (KH), sementara di kalangan Bugis Makassar, gelar KH ini dikesampingkan dan lebih suka menggunakan gelar ‘Anre Gurutta Haji’ atau disingkat AGH. Meski di Sulsel, sendiri beberapa tokoh Bugis-Makassar pernah menggunakan gelar KH, diantaranya KH. Ali  Yafie, mantan Ketua MUI. Namun seiring perkembangannya, gelar KH di Sulsel menghilang dan menggantinya dengan gelar AGH bukan KH? Seperti ulama-ulama pesohor lainnya di nusantara. Apakah terjadi pergeseran nilai dikalangan KH?, ataukah AGH hanya cermin identitas orang-orang Bugis Makassar?

Memang tidak semua ulama di Jawa menggunakan gelar Kyai Haji ini. Biasanya hanya digunakan oleh kalangan Nahdliyin. Sebut saja KH. Wakhid Hasyiem, KH. Hasyiem As’arie, KH. Abdurrahman Wahid, KH. Mustofa Bisri, dan lain sebagainya. Muhammadiyah jarang sekali. Nama KH bagi seorang Muhammadiyah hanya melekat pada pendirinya ‘KH Ahmad Dahlan’. Tapi seorang ulama se modern Din Syamsuddin (berasal dari Lombok), tidak pernah menggunakan gelar tersebut, dan lebih melekat pada gelar akademiknya. Prof Dr Din Syamsuddin.

A, Haedar Ruslan, seorang guru di Pondok Pesantren Daarul Ma’arif Bandung dalam tulisannya berjudul ‘Dinamika Kepemimpinan Kyai Di Pesantren’ menulis tentang seluk beluk dan arti Kyai. Menurutya, Kyai berasal dari Bahasa Jawa Kuno ‘Kiya-Kiya’ yang artinya orang yang dihormati. Sedangkan dalam pemakaiannya dipergunakan untuk; pertama, pada benda atau hewan yang dikeramatkan seperti Kyai Plered (tombak), Kyai Rebo dan Kyai Wage (Gajah di kebun binatang Gembira Loka Yokyakarta). Kedua, pada orang tua pada umumnya, ketiga, pada orang yang memiliki keahlian dalam Agama Islam yang mengajar santri di Pesantren.

Secara terminologi, menurut Manfred Ziemnek, pengertian Kyai adalah Pendiri atau pemimpin sebuah pesantren,  sebagai muslim "terpelajar" yang telah membaktikan hidupnya "demi Allah" serta menyebarluaskan dan mendalami ajaran-ajaran dan pandangan Islam melalui kegiatan pendidikan Islam. Namun pada umumnya di masyarakat kata "kyai" disejajarkan pengertiannya dengan ulama dalam khazanah Islam. ( Moch. Eksan, 2000 ).

Abdurrahman Mas’ud (2004, 236-237) memasukkan Kyai kedalam lima tipologi, yakni
1.      Kyai (ulama) encyclopedi dan multidispliner yang mengonsentrasikan diri dalam dunia ilmu; belajar,  mengajar, dan menulis, menghasilkan banyak kitab seperti Nawai Al-Bantani.
2.    Kyai yang ahli dalam salah satu spesialisai bidang ilmu pengetahuan Islam. Karena keahlian meraka dalam berbagai lapangan ilmu pengetahuan pesantren, mereka terkadang dinamai sesuai dengan spesialisasi mreka, misalnya pesantren Al-quran.
3.      Kyai Kharismatik, yang memperoleh karismanya dari ilmu pengetahuan keagaamaan, khususnya sufisme, seperti KH. Kholil Bangkalan Madura.
4.      Kyai Dai Keliling, yang perhatian dan keterlibatannya lebih besar melalui ceramah dalam menyampaikan ilmunya sebagai bentuk interaksi dengan publik bersamaan dengan misi Sunnisme atau Aswaja dengan bahasa retorika efektif.
5.      Kyai Pergerakan, yakni karena peran dan skill kepemimpinannya yang luar biasa, baik dalam masyarakat maupun organisasi yang didirikannya, sehingga menjadi pemimpin yang menonjol. Seperti KH. Hasyiem Asyarie.

Lima kriteria Kyai versi Abdurrahman Mas’ud inilah, sepertinya masuk dalam kategori ‘Ulama Bugis Makassar. Mungkin subjektif, sebab ulama-ulama Bugis Makassar dengan gelar ‘Anre Gurutta Haji’ adalah sosok yang kharismatik, dipercaya masyarakat, fatwah-nya di ‘takuti’, seorang sufi dan umumnya berusia 60 tahun keatas. Seperti AGH. Abdurrahman Ambo Dalle, AGH. Assa’ad, AGH Daud Ismail (Gurutta Daude), AGH. Pabbaja, AGH Yunus Martang, hingga ulama modern Bugis Makassar saat ini, AGH. Sanusi Baco.

Jarang skali terdengar ada seorang Bugis Makassar, yang ahli dan cendekia dalam bidang Agama Islam dan ke-sufi-annya, dengan umur 50 tahun ke bawah menggunakan gelar AGH atau KH. Biasanya, mereka lebih sreg dipanggil ‘uztads’ saja. Entah kenapa, tetapi di panggil pak Kyai Haji, bagi mereka ‘terlalu berlebihan’, bahkan merasa tak lazim.

Terminologi AGH
            Menurut penulis, dari kata perkata, AGH atau Anre Gurutta Haji berasal dari tiga suku kata yakni; ‘Anre’ yang berarti  ‘tempat belajar’ (bukan Manre = makan), Gurutta  yang berarti Guru Kita (Guru semua lapisan masyarakat), dan Haji atau orang yang pernah melaksanakan ritual ibadah haji, sebagai penyempurna dari Rukun Islam.
            Wajar saja kemudian, bila pengguna AGH bagi kalangan ulama Bugis Makassar, hanya diberikan oleh publik bagi seorang yang sufistik, berusia lanjut karena dianggap matang, serta punya ‘karomah’ tersendiri yang kemudian diposisikan sebagai orang yang paling dihormati, jauh dihormati ketimbang pejabat tinggi, atau bahkan yang bergelar proffessor sekalipun. Bahkan seorang pemuda, yang telah menghafal Al-quran 30 Juz, menguasai seluk beluk agama Islam dari A hingga Z, menimba ilmu di Timur Tengah, begitu kembali ke Sulawesi Selatan, biasanya hanya senang digelari ‘uztadz’ saja. Layaknya di Jakarta kepiawaian seorang ulama muda hanya suka menggunakan gelar Uztads saja, seperti;  Ustadz Yusuf Mansur, Ustadz Jefri Al-Buchori hingga Ustazd Arifin Ilham.

Banyak ‘Kyai Haji’ Muda.

Jumat malam lalu, 28 Mei 2010, di Masjid Raya Kota Baubau Sulawesi Tenggara digelar zikir akbar dengan menghadirkan dua orang ulama asal Jakarta, lengkap dengan gelar akademik dan gelar keagamaannya. Namanya ditulisan masing-masing Drs. KH...............................,MA (maaf tidak menuliskan nama). Ketika Walikota Baubau memberi sambutan dan menyebut nama kedua ulama tersebut, sang walikota menyebut nama beliau dengan ‘Yang Terhormat, Ustadz Drs, Kyai Haji...........................................MA. Penyebutan nama ini pula diikuti oleh sang protokl acara.

Sengaja atau tidak, pemberian kata Ustadz didepan kata KH adalah protes ‘alam bawah sadar’ seorang Walikota. Maklum, di Sulawesi pada umumnya, gelar KH tidak lazim bagi seorang ulama yang masih berusia muda.
Di Baubau sendiri, gelar KH baru kesohor pada seorang ulama saja, namanya KH Syukur, seorang ulama besar yang kini telah meninggal dunia, dan sangat berjasa dalam siar Islam di beberapa wilayah di Pulau Buton.

Belakangan, ada dua orang lagi bergelar Kyai Haji, yang masing-masing memimpin pondok pesantren di kota ini. Meski secara formal, gelar KH diberikan pada keduanya saat ada kegiatan yang bersifat formal, namun dalam penyebutan sehari-hari, masyarakat lebih sreg memanggilnya ‘ustads’ saja. Entah kenapa, yang pasti keduanya berusia terbilang muda.

Sepakat Dengan Gus Mus

Sebagai perenungan, mungkin baiknya kita banyak membaca tulisan KH Mustofa Bisri atau Gus Mus (baca di  www.gusmus.net ) dalam tulisannya yang berjudul, Ulama, Kyai, Muballig dan Artis..berikut ulasan Gus Mus;

Konon istilah mula-mula muncul sebagai kesepakatan sesuatu kelompok atau kalangan tertentu. Istilah-istilah hadis, misalnya, muncul dari kesepakatan kalangan muhadditsin; istilah-istilah kesenian dari kalangan seniman; dan. seterusnya. Namun kemudian istilah-istilah yang beredar di masyarakat itu sering mengalami  kerancuan pengertian. Antara lain, karena orang seenaknya saja menggunakan istilah itu, dan tidak mau —atau tak sempat— merujuk ke sumber asalnya. Kerancuan itu ternyata membawa dampak dalam kehidupan bermasyarakat. Inilah yang terjadi dengan istilah “ulama”, “kiai” dan “mubalig”. Celakanya, yang bersangkutan -yang dengan tidak tepat disebut ulama, kiai, atau mubalig— biasanya malah mcrasa bangga dan tidak membantah. Kalaupun membantah, biasanya dengan gaya basa-basi, sehingga semakin mendukung penyebutan itu, atau setidaknya makin mengaburkan maknanya.

Sebab, meskipun sebutan ulama, kiai, atau mubalig itu mengundang kehormatan dan tanggung
jawab, yang segera tampak menggiurkan justru kehormatannya. Baru setelah yang bersangkutan terbukti melakukan hal yang tak sesuai dengan maqam, atau kedudukan terhormat itu, orang menjadi bingung sendiri. Yang lebih merepotkan, istilah "ulama" yang beredar dalam masyarakat kita -seperti berbagai istilah lain- mempunyai "kelamin ganda" dan berasal tidak hanya  dari satu sumber. Dalam bahasa Indonesia, ulama berarti "orang yang ahli dalam  hal atau dalam pengetahuan agama Islam" (lihat Kamus Besar Bahasa Indonesia, hlm.  985). Sedangkan di Arab sendiri, 'ulama (bentuk jamak dari ‘alim) hanya mempunyai  arti "orang yang berilmu".

'Ulama dalam peristilahan itulah yang sering disebut-sebut ulama sebagai waratsatul anbiyaa (pewaris para Nabi). Merekalah yang disebut sebagai hamba Allah yang paling takwa, pelita ummat dan sebagainya. Banyak definisi mengenainya, tetapi semuanya mengacu kepada satu pokok pengertian: ilmu dan amal.  Karena itu, disamping menguasai kandungan Al-Qur'an dan Sunnah, mereka juga -sebagaimana Nabi- mesti yang pertama mengamalkannya. Sebagai pewaris Nabi,  setidaknya ulama mewarisi -di atas rata-rata ummat mereka- ilmu, ketakwaan, kekuatan iman, akhlak mulia, rasa tidak tahan melihat penderitaan ummat,  pengayoman, keberanian dalam menegakkan kebenaran dan keadilan, dan keikhlasan  serta keuletan dalam mengajak kepada kebaikan.
Dengan kelebihan-kelebihan itu, ulama tentulah merupakan hamba-hamba yang paling takwa kepada Allah.  Dari sini saja, kita -atau setidaknya saya- merasa pesimistis: apakah kini masih  ada ulama? Ada saatnya ulama dengan pengertian itu menjadi sinonim dari istilah Kiai yang lebih bersifat budaya dalam masyarakat kita.

Bila orang menyebut kiai, segera teringat pengertian ulama pewaris Nabi itu. Kenapa? Karena, meski dari segi ilmu dan lain sebagainya, kiai -betapapun hebatnya- tidak bisa mendekati ulama seperti yang dicontohkan dalam kitab-kitab kuning. Setidaknya masyarakat  masih melihat mereka mewarisi sifat-sifat keteladanan mulia dan pengayoman yang teduh. Mereka membangun surau dan pesantren untuk kepentingan masyarakat.  Mendarmakan hidupnya untuk Allah melalui khidmah (pelayanan)-nya kepada ummat.
Karena itu, bahkan tidak hanya kiainya secara pribadi, tapi juga keluarga dan putra-putranya dihormati. Putranya yang laki-laki diberi julukan terhormat: (ba)gus, dengan harapan kelak akan menjadi kiai sebagaimana ayahnya.

Penghormatan yang terlalu dini kepada gus inilah yang mungkin sering justru mencelakakan yang bersangkutan. Apalagi bila ternyata kemudian -setelah sampai saatnya menggantikan orang tuanya- kapasitas ilmu maupun keteladanan; budi pekertinya tidak mampu mengatrolnya, minimal mendekati kapasitas orang tuanya.

Di pesantren, disamping pengajaran, sebenarnya yang lebih penting lagi adalah pendidikan kiainya. Sulitnya, menyerap pendidikan tidak semudah menyerap  pelajaran. Maka janganlah heran apabila kemudian lebih banyak santri yang menjadi  pintar ketimbang yang berakhlak.

Dari segi penampilan, boleh jadi orang yang pintar lebih tampak wah dan cepat  ngepop. Dengan menggelar ilmunya, orang akan segera terpesona dan teringat kepada  kiai sepuh yang juga berilmu. Apalagi jika pandai bicara, dijamin cepat kondang. Orang pun lalu menyebutnya sebagai kiai mubalig.

Istilah kiai mubalig ini pun agak rancu. Apalagi akhir-akhir ini di mana-mana muncul mubalig yang tak jarang dengan sendirinya disebut kiai. Mungkin karena keterbatasan memahami hadis "Sampaikanlah dariku meski hanya satu ayat," maka meskipun hanya punya satu ayat-dua ayat, ditambah ghirah ber-amar ma'ruf nahi munkar, plus modal pintar ngomong jadilah seseorang sebagai mubalig. Karena sebelumnya ada kiai yang bertablig, maka siapa pun yang bertablig disebut juga kiai.

Lalu, seiring dengan maraknya kebidupan keagamaan, artis yang memang luwes dan pelawak yang memang pintar bicara, yang beragama Islam, pun tak mau hanya mendapatkan 'fid-dunya hasanah'. Mengapa tidakjuga mencari ‘fid-akhirati khasanah’ Bukankah gerak-kegiatannya tidak begitu berbeda dan bahan tersedia di mana-mana? Dan kiprah mereka di mimbar taklim tak kalah dengan di pentas show, bahkan tak jarang mengalahkan mubalig betulan.

Begitulah, lalu menjadi campur-aduk -barangkali sesuai zaman globalisasi! Yang ulama, yang kiai, yang mubalig kiai (kiai yang bertablig), yang kiai mubalig disebut kiai karena tablig), yang artis mubalig, dan yang mubalig artis, semuanya menjadi sulit dibedakan. Apalagi bila gaya ulama dan kiai -termasuk berfatwa- juga dengan baik telah ditiru mubalig dan artis; gaya mubalig dan artis -termasuk "keluwesan" pergaulan dan glamour- juga sudah menulari ulama dan kiai.
Masya Allah! Tuhan, apalagi yang hendak Engkau pertunjukkan kepada kami? Ampunilah kami semua!  (**)

                                                                                                Baubau, 29 Mei 2010

foto-foto dari atas ke bawah adalah ulama-ulama bugis-makassar masing-masing;
1. AGH. Abdurrahman Ambo Dalle (Gurutta Ambo Dalle)
2. AGH. Daud Yunus (Gurutta Daude)
3. AGH. Pabbaja (Gurutta Pabbaja)
4. AGH. Muh. As'ad (Gurutta Saade')
5. AGH. Yunus Martan (Gurutta Yunusu')

Jumat, 28 Mei 2010

Wakil Walikota-ku Menjanda, Mau???

Saya tentu ingin mengucapkan maaf sebelumnya, kalau dianggap terlalu mengeksplore sisi feminim seorang pemimpin. Dan, saya juga minta maaf kepada warga Kota Kotamobagu Sulawesi Utara, kalau tulisan ini banyak yang mengapresiasi soal kecantikan dan ada pembaca yang mungkin berpikir dalam sisi yang negatif.

Membahas Kota Kotamobagu yang cantik dalam perjalanan hampir sepekan di wilayah itu (22-27 Mei 2010) itu tiada pernah berhenti. (Baca juga di http://wisata.kompasiana.com/group/jalan-jalan/2010/05/26/kotamobagu-lembah-cantik-itu/ ) apalagi membahas sisi lain dari pemimpinnya. Saya fokus pada sosok Ibu Ir Tatong Bara, seorang ibu, mantan kontraktor yang kini duduk sebagai Wakil Walikota dan sangat setia mendampingi Walikotanya, (Hi Jelantik Mokodompit). Saking setianya, saat pameran APEKSI dalam rangka HUT Kota Kotamobagu-3, saya sempat bersalaman dan mengira ibu yang cantik itu adalah istri Pak Jelantik. Ia berjalan masuk ke stand-stand pameran bagai bidadari dari kayangan, beliau seolah menjadi magnet kepemimpinan Kota Kotamobagu....waduwh..hayalan ini.

Meski berlatar belakang enterprener, Ibu Tatong Bara adalah srikandi Sulawesi Utara dalam lintas politik, ia kini memimpin partai Amanat nasional (PAN) Kota Kotamobagu, dan digadang-gadang sebagai calon Wakil Gubernur Sulawesi Utara. Sayang kepiawaian dan kecerdasan srikandi ini tidak seberuntung karirnya dalam berkeluarga. Beliau ditinggal mati sang Suami beberapa bulan yang lalu, sehingga kini harus hidup menjanda. Lebih miris lagi, Ibu Tatong Bara konon belum memiliki keturunan (maaf kalau, pernyataan ini keliru).

Kesendirian Tatong Bara, memang menjadi perbincangan hangat elit dan masyarakat Kota Kotamobagu, bahkan seorang Gubernur Sinyo Harry Sarundajang sempat bercanda, bila Ibu Tatong ‘harus diperhatikan’. Candaan Sang Gubernur juga disambut candaan Walikota Kotamobagu H. Jelantik Mokodompit dalam acara Rapat Konsultasi Assosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) wilayah Sulawesi Maluku dan Papua yang dipusatkan di kota itu. Kata Sang walikota, “Ibu Jelita kita, pasangan saya dalam memimpin Kota ini, kini hidup sendiri,” ujar Jelantik berfilosofi entah apa maknanya.

Ibu Tatong Bara dari segi usia belum terlalu berumur, kira-kira diatas 45 Tahun, tapi kecantikannya belum memudar, kulitnya yang bening, dan sedikit modis ala selebriti, serta tubuh tinggi dengan raga yang sintal, mengambarkan komelakan Tatong Bara. Beliau seolah, gambaran kemolekan dan kecantikan gadis-gadis khas Sulawesi Utara. Jujur, lelaki normal yang memandang beliau, pasti punya keinginan memiliki pasangan ala Tatong Bara.

Berpikir subjektif tentang kepemimpinan Kota Kotamobagu yang dipegang pasangan Drs H Jelantik Modompit sebagai Walikota dan Ir Tatong Bara sebagai Wakil Walikota atau disingkat JELITA, memang rohnya dari seorang Tatong Bara. Sebab Tatong memang sosok wanita Jelita Khas Kotamobagu. Saya berpikir, kalau sebenarnya kemenangan pasangan JELITA ini banyak ditentukan dengan ‘daya tarik dan pesona’ seorang Tatong Bara.

Hegemoni seorang Ibu Tatong Bara, bukan hanya di Kotamobagu, Ir Tatong Bara rupanya telah terpatri di dalam hati warga Bolaang Mongondow Utara (Bolmut). Buktinya dukungan terhadap Ketua Partai Amanat Nasional (PAN) Kota Kotamobagu untuk maju dalam perhelatan Pilgub terus mengalir dari seantero Bolmut. Seperti diungkap Yunan Tegela. “Tatong Figur yang bersih dari Korupsi dan dikenal Cerdas serta memiliki visi membangun daerah yang jelas” ujarnya.

Bukan hanya itu saja, Tatong juga telah dianggap sebagai keterwakilan warga Bolmong Raya dalam Pemilihan Gubernur tahun ini. “Tatong merupakan representasi Bolmong Raya dan tentunya akan didukung sepenuhnya jika maju dalam Pilgub kali ini” tambahnya. Sementara itu Tatong sendiri menjelaskan jika keinginannya maju dalam perhelatan Pilgub kali ini juga atas permintaan konstituennya. “Jika terpilih nanti akan bekerja maksimal demi kemakmuran masyarakat. “Saat ini saya adalah abdi masyarakat dan akan terus seperti itu” ujarnya sambil merendah.(baca di: http://poskomanado.com/news )

Yang pasti, dari sekian banyak perjalanan ke kota-kota di Indonesia ini, kekaguman itu justru ‘lahir di Kota Kotamobagu’ setelah mengamati seorang Wakil Walikota Kotamobagu, seorang srikandi masa kini, yang tak hanya piawai dalam berpolitik. Tapi beliau juga pesona bagi kaum pria. Apalagi, beliau kini hidup menjanda. Kalau seperti itu, bagaimana opini kita? Saya hanya ingin mengucapkan satu kalimat pada ibu Tatong Bara. “Maafkan Saya Bu, Anda telah menginspirasi saya dalam menulis hari ini”, Mau??.........(***)

Bau-Bau, 29 Mei 2010.
(Yang tersisa dari Kotamobagu)

Rabu, 26 Mei 2010

Image Seks Kota Manado. Mari Jo!


Manado memang indah, cantik dan punya daya tarik tersendiri. Kota di utara Indonesia ini, dari segi nama memang punya daya jual. Menyebut dan membayang nama Manado, seolah membayang nama-nama kota yang ada di luar negeri. Manado seolah bersanding dengan nama-nama kota di negeri ‘latin’, seperti Madrid, Cossovo, dan lainnya. Apalagi nama-nama kota di Asia, hampir serupa seperti Mindanao, dan Macao. Yang pasti, image Manado bagi orang yang belum berkunjung ke sana, pasti lebih melekat dibanding kota-kota lainnya di Indonesia seperti Surabaya, Bandung dan Makassar. Ke Manado, seolah berkunjung ke negeri lain.

Saya pun membuktikannya, meski hanya melintas beberapa hari di Manado, image saya seolah ‘di paksa’ membuktikan kemolekan Manado. Bahkan rekan-rekan  yang mengetahui perjalanan saya ke Manado mengingatkan saya dengan idiom 3B, yakni bubur, bibir dan bunaken. Malah ada yang nambah ‘Bobo Jo!’ katanya. Lebih parah lagi, mereka seolah memaksa saya untuk menikmati salah satu dari empat pilihan itu. ‘Bibir dan Bobo’...waduww....

Tapi, ada pula yang mengingatkan, agar berhati-hati dengan kemolekan Manado. “Hati-hati so pigi Manado, disi-disi so pasti beking seks,” kira-kira artinya lebih kurang begini; hati-hati saja kalau Anda bepergian ke Manado, disini pasti banyak ‘pembuat’ seks. Separah itukah?

Saya pun bertanya dalam hati, apakah merugi jika ke Manado tapi tidak menikmati  seks Manado itu? Sebagai pendatang baru saya ingin membuktikannya, dengan niat merubah image Manado sebagai kota bebas ‘yang itu’. Saya hanya ingin Manado benar-benar sebagai kota metropolitan layaknya Jakarta, Surabaya, Medan dan Makassar. Sudah pasti fasilitas ‘seks’ banyak tersedia, namun image sebagai kota seks tentu tidak boleh dikembangkan. Sebab Kota Manado adalah kota yang sama posisinya di Indonesia sebagai kota yang penuh keindahan, keramahan...

Sesampai di Bandara Internasional Sam Ratulangi Manado 24 Mei baru-baru ini, saya dan beberapa rekan disambut satu kalimat penyambutan, “Salam Baku Dapa!” artinya selamat berjumpa. Bandara ini terbilang sebagai salah satu bandara tersibuk di Indonesia Timur selain Makassar. Wajar saja bila dimana-mana yang ada hanya kerumunan orang. Image Seks yang melekat di benak saya, terus menghantui, melongok kiri kanan, melihat para wanita memang rata-rata berparas cantik, putih dan modis. Jarang sekali wanita dijumpai berparas ‘standar kebawah’. Seorang rekan pejabat di kota saya bergumam, “Disini 5 cewek berjalan, ada 10 yang cantik!” katanya menganalisa kemolekan gadis-gadis Manado.

Lepas dari kawasan Bandara, lalu menyusuri kota-kota Manado sambil mencari hotel, benak saya bergumam, “Mungkin yang ini orang-orang banyak berpikir seks”. Mengandaikan keramahan, dan kecantikan serta senyuman menyungging sebagai ‘gampangnya’ menikmati seks di kota ini. Sayapun mengalihkan pikiran, ada apa ‘image’ itu begitu terbentuk di benak orang-orang?. Saya hanya terkejut, ketika masuk hotel, tiba-tiba ada yang menyapa;
 “Om butuh selimut?” Waduh! Pikiran saya, sudah pasti bukan selimut biasa, pasti selimut plus
 “Tidak, masih capek dari perjalanan” kataku
“Ow, gampang,  kalau Om butuh di pijit, torang bisa bantu, dijamin nyaman Om” katanya.
“Iya, nanti saya ya? Kita masih mau jalan jauh” kataku.
“Ok-ok, kalau butuh ini nomor bisa dihubungi” jawabnya orang yang menurutku seorang ‘makelar’.

Sekitar 2 jam lebih menyusuri malam kota Manado, seraya surfing ‘google’ mencari daftar hotel dan bertanya pada beberapa orang, hampir semua hotel yang ditawarkan adalah hotel kelas bintang dengan layanan plus tentunya. Maraknya hotel berbintang ini muncul pasca kegiatan Word Ocean Conferency (WOC) yang dihadiri puluhan negara beberapa waktu silam. Dan, kami putuskan nginap di salah satu hotel di kawasan Boulevard Manado. Memang nyaman, apalagi ada pesan khusus dari sejumlah rekan di sana soal makanan bagi yang Muslim. Kalau yang satu ini tidak masalah, sebab memang yang namanya hotel dengan penduduk yang heterogen, ada saja dijumpai makanan non halal.

Pagi Yang Indah, Mana Doi!
Malam terlewati dengan pulas dan tanpa ‘gangguan’ image kotor, kami sambut pagi yang indah. Terus menyusuri kota Manado yang istimewa itu. Disana terangkai indah pantai kawasan Boulevard dengan latar Gunung Manado Tua nun jauh di sana. Manado memang menawarkan objek wisata yang tiada banding.

Memandang ke atas, gunung Klabat yang dikelilingi awan putih seolah meneduhkan suasana kota Manado, belum lagi Nyiur melambai seolah memanggil, inilah Indonesia itu. Nyanyian “Rayuan Pulau Kelapa”  membentuk benak saya, kalau sang komponis lagu itu mungkin terinspirasi dengan Kota Manado. Maklum pesisir Manado menuju Minahasa, nyiur melambai dimana-mana menghadap ke Laut Sulawesi, seolah memanggil “Mari Jo Torang ke Manado”.

Puas menikmati alam Manado di pagi hari, kualihkan pandangan ke gadis-gadis yang ramai berjalan menyusuri beberapa kawasan perkotaan, dari Mall, hotel, hingga beberapa kawasan perekonomian lainnya. Memang tak bisa dipungkiri, kalau image seks itu melekat (Bagi penikmat seks, tentunya) karena kemolekan para gadisnya. Putih mulus, mata agak sipit dan ramah menyungging senyum.

Puas memandang kota nan cantik ini, saya banyak bertanya pada warga sekitar tentang Kota Manado ini, ada yang mengistilahkan Manado itu dengan kata ‘Mana Doi’ artinya ‘Mana Uang (mu)’. Mungkin ini pula yang mentasbihkan Manado sebagai kota sekuler sekaligus beraliran konsumensarisme. Tapi yang pasti, saya berkesimpulan kalau Kota Manado memang kota entertaniner. Dimana-mana ada hiburan, kawasan wisata hingga fasilitas pemuas diri lainnya.

Sejarah Kota Manado
Sekali lagi, dalam sejarah panjang Kota Manado, kata Manado berasal dari Bahasa Minahasa dari kata Mana Rou atau Mana Dou yang berarti “Di Jauh”. Kota yang diperkirakan didiami sejak abad ke -16 ini, Menurut sejarah, pada abad itu jugalah Kota Manado telah dikenal dan didatangi oleh orang-orang dari luar negeri. Nama "Manado" mulai digunakan pada tahun 1623 menggantikan nama "Pogidon" atau "Wenang".

Kata Manado sendiri berasal dari bahasa daerah Minahasa yaitu Mana rou atau Mana dou yang dalam bahasa Indonesia berarti "di jauh". Pada tahun itu juga, tanah Minahasa-Manado mulai dikenal dan populer di antara orang-orang Eropa dengan hasil buminya. Hal tersebut tercatat dalam dokumen-dokumen sejarah yang ada.

Tahun 1658 , VOC membuat sebuah benteng di Manado. Sejarah juga mencatat bahwa salah satu Pahlawan Nasional Indonesia , Pangeran Diponegoro pernah diasingkan ke Manado oleh pemerintah Belanda pada tahun 1830 . Biologiwan Inggris Alfred Wallace juga pernah berkunjung ke Manado pada 1859 dan memuji keindahan kota ini.

Keberadaan kota Manado dimulai dari adanya besluit Gubernur Jenderal Hindia Belanda tanggal 1 Juli 1919 . Dengan besluit itu, Gewest Manado ditetapkan sebagai Staatsgemeente yang kemudian dilengkapi dengan alat-alatnya antara lain Dewan gemeente atau Gemeente Raad yang dikepalai oleh seorang Walikota ( Burgemeester ).

Pada tahun 1951 , Gemeente Manado menjadi Daerah Bagian Kota Manado dari Minahasa sesuai Surat Keputusan Gubernur Sulawesi tanggal 3 Mei 1951 Nomor 223. Tanggal 17 April 1951 , terbentuklah Dewan Perwakilan Periode 1951-1953 berdasarkan Keputusan Gubernur Sulawesi Nomor 14. Pada 1953 Daerah Bagian Kota Manado berubah statusnya menjadi Daerah Kota Manado sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 42/1953 juncto Peraturan Pemerintah Nomor 15/1954.

Tahun 1957 , Manado menjadi Kotapraja sesuai Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1957. Tahun 1959 , Kotapraja Manado ditetapkan sebagai Daerah Tingkat II sesuai Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959. Tahun 1965 , Kotapraja Manado berubah status menjadi Kotamadya Manado, yang dipimpin oleh Walikotamadya Manado KDH Tingkat II Manado sesuai Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1965 yang disempurnakan dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974.

Hari Jadiku sama dengan Kota Manado.
                Saya lebih tertarik menulis kota ini, karena sangat special bagiku. Manado sama dengan tanggal kelahiranku, artinya kalau memeriahkan HUT Kota Manado, itu berarti juga memeriahkan ulang tahunku. Bangganya! Yakni tanggal 14 Juli.

 Hari jadi Kota Manado yang ditetapkan pada tanggal 14 Juli 1623 , merupakan momentum yang mengemas tiga peristiwa bersejarah sekaligus yaitu tanggal 14 yang diambil dari peristiwa heroik yaitu peristiwa Merah Putih 14 Februari 1946 , dimana putra daerah ini bangkit dan menentang penjajahan Belanda untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia , kemudian bulan Juli yang diambil dari unsur yuridis yaitu bulan Juli 1919 , yaitu munculnya Besluit Gubernur Jenderal tentang penetapan Gewest Manado sebagai Staatgemeente dikeluarkan, dan tahun 1623 yang diambil dari unsur historis yaitu tahun dimana Kota Manado dikenal dan digunakan dalam surat-surat resmi.

Berdasarkan ketiga peristiwa penting tersebut, maka pada setiap tanggal 14 Juli Kota Manado merayakan HUT-nya. Dan pada tanggal 14 Juli 2010 mendatang ini masyarakat dan pemerintah Kota Manado merayakan hari jadinya yang ke-387. Selamat Jo, semoga image kota sebagai kota seks, tidak ada lagi. (catatan dengan sumber beberapa sejarah kota Manado)

Manado di pagi hari, 26 Mei 2010.

Kotamobagu, Lembah Cantik Itu....

Menyisir nyiur sepanjang pantai Sulawesi Utara sungguh menjadikan Indonesia benar-benar indah, elok nian pula. Perjalanan melelahkan dari Kota Bau-Bau di Pulau Buton menuju Makassar selama 45 menit, plus penerbangan Makassar – Manado lebih dari 1 jam, lalu menyusur pantai menuju Kota Kotamobagu selama 4 jam bukan perkara gampang. Namun lambaian nyiur itu begitu indah, mencuci mata yang kelelahan. Sampailah kami di kota cantik di lembah gunung Ambang, gunung api aktif di negeri Bolaang Mangondow, wilayah yang sebelumnya menjadi induk dari Kota Kotamobagu.

Kota Kotamobagu sendiri resmi menjadi daerah otonom lepas dari Bolaang Mangondow 24 Mei 2007. Pas tiga tahun lalu. Memang kunjungan kami ke Kotamobagu mengeikuti Rakor Assosiasi pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) wilayah Sulawesi, Maluku dan Papua, yang oleh pemerintah setempat dirangkaikan dengan HUT Kota Kotamobagu ke-tiga sekaligus menyaksikan pemecahan rekor MURI ‘kacang Goyang’. Kacang Goyang memang produk warga setempat, sekaligus ‘ole-oleh’ pulang kampung nantinya.

Lagi-lagi saya mengungkap kemolekan Kota Kotamobagu, sama moleknya dengan gadis-gadis di sana. Kota kecil ini seperti ‘kota ditengah hutan’ sebab Kota Kotamobagu yang begitu menyala di malam hari, dengan kehidupan perekonomian berbau kota metro, meski dikelilingi hutan dan gunung-gunung berapi yang aktif.

Yang saya kagumi, meski Kota Kotamobagu hanya kota kecil dengan jumlah penduduk sekitar 120 ribu jiwa, namun kehidupan warganya sangat dinamis dan entertainer. Makanya wajar bila, sejumlah mall berdiri di sana yang membuat aktivitas perekonomian terus bergerak dari pagi hingga malam hari.

Melihat Kota Kotamobagu saya terkesima. Tidak pernah membayang ada kota di dalam kawasan hutan. Satu-satunya yang ada dibenak kami sebelum berkunjung kesana, hanyalah gadis-gadisnya yang cantik. Itu pasti, sebab Kota Kotamobagu tentu berdarah ras manado yang di Nusantara ini dikenal sebagai negerinya para ‘dewi-dewi’. Makanya wajar bila ada anekdot kalau ke Manado ada 3B yang harus dinikmati, Bubur, Bunaken dan terakhir Bibir. Waduh! Kata terakhir ini nampaknya kurang elok dibahas tuntas, sebab itu hanya idiom penggambaran bila orang Manado terkenal kecantikannya, sehingga banyak yang bilang, kalau mau pilih istri cantik, maka pililah orang Manado. Waduwww...

Kotamobagu, lembah cantik itu....begitu ungkapan ketertarikan orang-orang yang berkunjung. Kota yang dipimpin pasangan ‘Jelita’ singkatan dari Bapak Jelantik Mokodompit dan Ibu Ir. Tatong Bara. Pak Jelantik, adalah seorang politisi yang pernah malang melintang di Senayan, sementara Ibu Tatong, adalah seorang kontraktor lokal manado yang cantik, ayu, berkulit putih bening, tinggi, dengan bulu mata lentik dan ttur kata yang sangat lembut. Tak apalah saya mengumbar kecantikan ‘02’ Kota Kotamobagu ini. Sebab beliau kini hidup sendiri, setelah sang suami tercinta berpulang ke rakhmatullah beberapa bulan lalu. Apalagi, ibu orang Kotamobagu ini konon tak memiliki putra-putri. Saya hanya berharap, tidak ada yang marah dengan saya ketika mengungkap kecantikan beliau. Saya hanya berharap, orang-orang Kota Kotamobagu menganggap ibu Wakil Walikota ini, sebagai penggambaran kecantikan wanita-wanita negeri ‘Maguni’ ini.

Kembali ke soal perkotaan, Kota Kotamobagu sebenarnya salah satu kota tua di Sulawesi Utara, selain Manado, Bitung dan Tomohon. Makanya wajar bila roda perekonomian di sana terus bergeliat. Wajar pula bila Kotamobagu naik status dari ibukota kabupaten menjadi Kotamadya, sama dengan Kota Baubau yang pernah menjadi ibukota Kabupaten Sulawesi Tenggara, saat wilayah ini masih bagian dari Provinsi Sulawesi Selatan dan Tenggara. Atau ketika Baubau menjadi ibukota dari Kabupaten Buton.

Kota Kotamobagu juga dikenal sebagai kota ‘Bentor’ alias Becak Motor. Kendaraan ala ‘becak’ dengan menggunakan motor bebek sebagai penggeraknya. Unik memang. Disebut seperti itu, sebab bentor kini jumlahnya mencapai ribuan kendaraan dan memadati jalan raya Kota Kotamobagu. Tapi demikianlah adanya, Bentor mengalahkan posisi Taksi, (taksi memang tak ada di sana, bahkan menggeser posisi Angkot yang menjadi kendaraan umum resmi di Kota Kotamobagu.

Kata Asisten I Kota Kotamobagu, bentor sebenarnya hasil ‘impor’ dari Gorontalo. Pas Gorontalo naik status menjadi provinsi, dibuatlah aturan yang menertibkan Bentor ini. Terdesak disana, Bentor lalu hijrah ke Kota Kotamobagu. Mungkin karena tak ada Taksi, Bentor menjadi alternatif utama angkutan umum di sana, sama dengan ojek-ojek motor di beberapa kota lainnya di Indonesia.

Meski menjadi kendaraan favorit kota ini, tapi bagi pemerintahnya dinilai bisa membuat ‘kumuh’ kehidupan perkotaan. Hanya memang terlambat ditertibkan, sehingga butuh waktu panjang untuk menertibkannya. “Pelan-pelan sambil mempelajari apa yang terbaik buat warga yang mencari nafkah lewat Bentor, apalagi Bentor lebih manusiawi dari becak yang menggunakan tenaga manusia.” Kata Sang Asisten Walikota ini.

Yang pasti untuk menuju ke kota Kotamobagu, siapkan fisik Anda untuk menempuh perjalanan selama 3 atau 4 jam perjalanan dari Kota Manado dengan mobil umum. Sebab hanya ini satu-satunya sarana transportasi. Belum ada pelabuhan PELNI atau Bandar Udara. Katanya, dulu pernah ada Bandara, namun tak ada maskapai penerbagan yang ingin investasi ke sana. Tapi yang pasti, kelelahan Anda dibayar kontan dengan komelakan kota di lembah nan sejuk ini.

Kota Kotamobagu, 25 Mei 2010

Minggu, 23 Mei 2010

Carpe diem!

Dunia ini tidak menunggu! Jadi,
tak sepantasnya kau menunggu.

Bergeraklah seperti dunia! Cepat,
dan tak kehilangan satu pun tarikan nafas ...

Jadikan nafasmu seirama derap dunia. Melaju ...
berlari kencang menuju cakrawala --
yang menantimu,
--- tapi tak menunggumu;
Karena iapun bergerak dan tak tinggal diam,
mengejar Matahari
yang tak henti berlari
untuk mengganti hari.

Dunia tak menunggumu.
Karena itu, jangan kau menunggu.
Carpe diem!
Carpe diem!
Carpe diem!

Sabtu, 22 Mei 2010

4 Jam di Bandara Makassar

Hari ini, 22 Mei 2010 begitu lelah rasanya. Untuk kesekian kalinya saya terbang dan transit di bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar, baru kali ini terasa penatnya. Maklum, harus transit berjam-jam lamanya. Dari Kota Bau-Bau terbang pukul 14.05 wita dan sampai ke Makassar pukul 15.00 dengan pesawat Wings Air. Tujuan saya ke Kota Manado dan terbang pada pukul 20.30 wita. Otomatis harus istirahat di Makassar selama 4 jam. Waduh! Begitu banyak waktu yang terbuang.
                Saya ditemani sejumlah rekan, Bapak Sadarman (Ka Kominfo), Bapak Sirajuddin (Bappeda) dan 3 rekan sebaya, Ahmad Syahroni (Bappeda), Arsyid (Bappeda), dan Ramadhan (Kominfo). Semuanya dengan wajah masem menunggu waktu. Untung saja ada kamera ditangan, jepret sana, jepret sini....(**)

Minggu, 09 Mei 2010

Diary Entry: 09 May 2010

Honestly, this has been a weird week. The weather patterns (the quick interlacing of sun and rain, heat and chill), the gains and losses, the ebb and flow of spirituality. And a lot of people came to me for help while I was struggling with my own problems and needed help myself.

It's as if the competing forces of the Universe had been involved in an intensified battle against each other .... I don't know. I'm not superstitious. But there's got to be something ...

Selasa, 04 Mei 2010

PENGERTIAN DAN MACAM LATAR / SETTING

Pengertian Latar
1.    Tempat waktu ataupun suasana terjadinya peristiwa yang dialami dalam cerpen tersebut.
(http://mystorydno.blogspot.com/2009/02/d-latarsetting.html)
2.    Sebagai landasan tumpu, menyaran pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan. (Abrams, 1981:175).
3.    Latar merupakan background sebuah cerita, tempat kejadian, daerah penuturan atau wilayah yang melingkupi sebuah cerita.
(http://www.noviasyahidah.com/hanya-teori-kepenulisan-latar-setting)
4.    Tempat, waktu , suasana yang terdapat dalam cerita. Sebuah cerita harus jelas dimana berlangsungnya, kapan terjadi dan suasana serta keadaan ketika cerita berlangsung.
(http://www.crayonpedia.org/mw/Menjelaskan_Unsur_-_Unsur_Intrinsik_Cerpen_12.1)
5.    Tempat dan waktu (di mana dan kapan) suatu ceritera terjadi. Yang harus diperhatikan dalam latar adalah tidak hanya segi fisik dari latar itu. Latar sebenarnya memberikan informasi yang sangat penting tentang keadaan masyarakat dimana ceritera itu terjadi pada waktu itu.
(http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20080531085038AARSBiq)
6.    Segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang, suasana, dan situasi terjadinya peristiwa dalam cerita. (Abdurrosyid, 2009)

Macam-macam Latar
1. Latar Tempat
Latar tempat menggambarkan lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah cerita. Penggambaran latar tempat ini hendaklah tidak bertentangan dengan realita tempat yang bersangkutan, hingga pembaca (terutama yang mengenal tempat tersebut) menjadi tidak yakin dengan apa yang kita sampaikan.
2. Latar Waktu
Latar Waktu menggambarkan kapan sebuah peristiwa itu terjadi. Dalam sebuah cerita sejarah, hal ini penting diperhatikan. Sebab waktu yang tidak konsisten akan menyebabkan rancunya sejarah itu sendiri. Latar waktu juga meliputi lamanya proses penceritaan
3. Latar Sosial
Latar sosial mencakup hal-hal yang berhubungan dengan kondisi tokoh atau masyarakat yang diceritakan dalam sebuah cerita. Termasuk di dalamnya adat istiadat, keyakinan, perilaku, budaya, dan sebagainya. Latar sosial sangat penting diketahui secara benar sebagaimana latar tempat, sebab hal ini berkaitan erat dengan nama, bahasa dan status tokoh dalam cerita.
4. Latar Emosional
Latar emosional lebih sering muncul saat membangun konflik, hingga ia memiliki peran yang sangat penting dalam sebuah cerita. Ada cerita yang secara keseluruhan hanya bercerita tentang konflik emosi seorang tokoh, hingga latar cerita pun total berupa emosi. Latar emosi ini biasanya terbaca melalui dialog-dialog, perenungan dan kecamuk perasaan si Tokoh.

Membuat Antena Wifi USB


Membuat Antena Wifi USB

 Kamis, 28 Mei 2009 10:35
Antena wifi USB ato biasa disebut dengan Uni-Directional WIFI Range Extender biasa digunakan untuk menangkap sinyal WIFI dari jarak yang jauh menggunakan adaptor USB Wifi standar dan sedikit kreatifitas.
Ide ini tidak memerlukan modifikasi apapun pada adaptor USB wifi ato komputer anda. Hanya sebuah jalan pintas yang mudah untuk meningkatkan kekuatan sinyal dan jarak dari UBS Wifi anda lagipula ini bekerja untuk semua jenis adaptor USB wifi standar.
Alat dan Bahan
Yang anda perlukan untuk membuatnya adalah beberapa peralatanyang relatif murah kecuali adaptor USBnya sendiri hehehe… Ok bahan-bahan yang perlu disiapkan adalah :
•    1 - Tutup Panci/Dandang (pokoke nyang dari metal… asal jangan ember > kan dari plastik)
•    1 - USB WIFI Adaptor
•    1 - USB Extension Cable (jangan panjang buanget tar ga kuat…)
•    ½” Mata bor (Drill Bit ato stepper bit untuk melubangi metal)
•    Lem Gorilla Glue (Epoxy juga bekerja bagus)
•    2 - Zip Ties (cable tie)
Mengebor Tutup Panci
Tutup panci harus di-bor yah biar berlubang, jadi mari kita siapkan mbak inul daratista… eh salah siapken mata bornya. Lubangi bagian tengah tutup panci anda dengan cara di bor ato di coak pake apalah terserah pokoke berlubang… inget lobangnya harus pas untuk lobang usb yang nanti akan ditancepkan.
Lem dan Rapikan
Masukkan bagian Female end dari USB extention (bagian yang tidak konek ke komputer) kedalam lobang yang barusan di bor ato dilubangi. Terus lem/epoxy dan diamkan sampe mengeras ato kuat ato ga isa di goyang-goyang ato diputer-puter ato diambil adik anda (serius!) antara plastik dan bagian metal panci. Pastikan benar-benar kuat dengan mengelem/epoxy kedua sisi konektor. Kemudian begitu mengering, gunakan cable tie 2 bagian telinga panci hingga tidak geleng-geleng ketika anda menggunakannya (halah…)
Selesai
Tinggal pasang USB WIFI adaptor kedalam socket pada bagian yang tersedia dan masukkan bagian lain dari kabel ke komputer anda. Tinggal nikmati kekuatan sinyal yang kuat dari jarak yang jauh. Nyalakan Netstumber ato Kismet untuk melihat kekuatan gain yang anda miliki. Silaken minimal buat ber-war driving wifi tetangga anda hihihi…

Dikutip dari : http://budi.akmi-baturaja.ac.id/2008/10/membuat-antena-wifi-usb/

Senin, 03 Mei 2010

Innalillahi wa inna ilaihi raaji'un ...

Sebagai orang Islam, saya diajarkan untuk meyakini - sebagai bagian dari sistem keimanan saya - bahwa segala sesuatu itu secara hakiki adalah milik Allah Subhanahu wa Ta'ala; bahwa semua yang kita miliki sesungguhnya hanyalah titipan Tuhan. Kapanpun Beliau menghendaki, Beliau berhak sepenuhnya untuk menarik kembali titipan itu.

Tubuh kita, kesehatan kita, nyawa kita, orangtua, anak, dan pasangan (suami/istri) kita, harta dan jabatan kita, ilmu kita - semua adalah titipan. Maka ketika sebagian atau bahkan seluruh hal yang kita yakini sebagai milik kita itu ditarik kembali, kita tidak pantas untuk berduka cita. Ucapan yang pantas ketika itu terjadi adalah - dan ini yang diajarkan oleh Islam - "innalillahi wa inna ilaihi raajiun" (semua milik Allah, dan kepada-Nya lah semua dikembalikan).

Namun demikian seringkali kita merasa bahwa milik kita adalah milik kita dan kita merasa begitu terpukul ketika kita kehilangan harta benda, kesehatan, dan kehidupan dari diri maupun orang-orang yang kita cintai. Kita terpukul, stres, menangis, meraung-raung menyesali hilangnya "milik" kita, dan lupa bahwa yang hilang itu sesungguhnya bukan milik kita, hanya pinjaman.

Begitulah. Kita sering lupa.

Minggu, 02 Mei 2010

Aku tak mempunyai judul untuk surat ini, Tuhan

Tuhan,
hari ini,
sekali lagi,
aku gagal memahami-Mu.

Maafkan aku.

Mungkin besok?
Atau lusa?
ketika Kau
tak sembunyi lagi
dari tatapan hamba
yang penuh harap?


______________________
Eki Qushay Akhwan
3 Mei 2010